Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

|| home | kisah misteri  | artikel | pengobatan | galeri |guestbook ||

 Melirik Pengobatan Alternatif
15 Okt. 2000

Pernah merasa putus asa karena ditimpa suatu penyakit yang tak kunjung sembuh? Dokter dan ahli medis lain telah angkat tangan. Kemana lagi harus mencari penyembuhan? Berbagai tawaran pengobatan alternatif pun merebak. Mulai yang cuma lewat brosur  stensilan sampai yang berani promosi lewat internet dan televisi, bahkan ada juga yang buka praktek di mal-mal terkenal. Mau coba?

Hari baru menunjukkan pukul 08.30. Tapi suasana sebuah rumah di pelosok Kebun Jeruk itu telah hiruk pikuk. Bangku panjang yang berderet rapi telah penuh sesak. Penjaja makanan pun hilir mudik menawarkan dan melayani sarapan pagi. Mobil-mobil berderet sepanjang jalan. Di meja pendaftaran yang dijaga dua orang, Inong kebagian nomor 900 an. Alamak, sepagi ini!
Menurut cerita Inong, Ibu Dewi (nama samaran) sudah lama buka praktek di tempat itu. Ia memeriksa pasiennya dengan cara memegang tangan dan melihat mata pasien.  Dihadapannya ada lampu minyak yang terus menyala.  Setelah itu ia akan memberikan jamu-jamuan -Ibu dewi ini seorang ningrat Solo- yang harus diminum. Setelah satu pekan, pasien harus balik lagi untuk kontrol. Uniknya, Ibu Dewi juga bisa mendeteksi penyakit pasien lewat foto. Jadi kalau pasien tidak dapat datang sendiri, bawa saja fotonya.
Beragam alasan orang ketika beralih atau memilih pengobatan alternatif. Ada sekedar penasaran, ingin tahu, seperti Inong, ada juga yang karena yakin penyakitnya bukan sekedar penyakit fisik. “Saya sudah periksa kemana-mana. Dokter bilang saya sehat, engga ada masalah. Tapi, saya sering kali merasakan sakit yang amat sangat di seluruh tubuh. Persendian nyeri, kepala sakit…., duh pokoknya sakit sekali. Saya pikir pasti ada apa-apanya, ya sudah saya datangi saja orang pintar. Ternyata saya sembuh….”cerita Ria.
Alasan lain, dokter atau rumah sakit sudah angkat tangan sehingga mereka mencari bentuk pengobatan nonmedis. Itulah sebabnya, penderita penyakit berat  semisal kanker banyak dijumpai di tempat praktek pengobatan alternatif ini. Ada juga yang karena alasan takut operasi, seperti Nira yang divonis dokter harus operasi untuk mengangkat tumor di rahimnya. Nira takut dan enggan operasi. Akhirnya ia pilih refleksi. Alhamdulillah konon katanya, tumornya mengecil. Wallahu’alam. Alasan praktis dan biaya lebih murah juga menyebabkan orang lebih memilih mendatangi tempat praktek ‘orang-orang pintar’ ini.

Medis VS Alternatif
Menurut dr. Lula Kamal yang menjadi presenter acara pengobatan alternatif di ANTEVE, sulit untuk membandingkan antara kedokteran (medis) dengan alternatif. “Cara pandang tentang defenisi sembuh saja berbeda. Dalam kedokteran, seseorang dinyatakan sehat bila telah bebas kuman. Orang sakit yang sudah bisa bekerja belum tentu sudah sehat bila masih ada kuman dalam tubuhnya. Nah, kalau menurut alternatif, kalau dia sudah biasa bekerja, itu sudah sembuh. Sementara menurut WHO, lain lagi. Sehat itu harus jasmani, rohani dan sosial juga. Orang yang belum punya uang itu belum sehat. Belum kerja juga belum sehat. Kalau dipikir-pikir ya bener, juga. Kadang engga punya duit, kepala pusing. Engga kerja, stres…”
Meski mengakui adanya perbedaan parameter dalam mengukur kesehatan, namun dokter yang tengah bertugas di Puskesmas Kenari ini mengatakan tidak semua penyakit bisa diselesaikan lewat medis. Sebab memang masih ada penyakit-penyakit tertentu yang dunia  kedokteran belum menemukan obatnya, semisal AIDS. Karena itu tak ada salahnya  lewat pengobatan alternatif. Tapi, “Harus masuk akal dan bisa dipahami logika.   Misalnya akupunktur, totok jari,atau  totok darah. Mereka tuh notok dan pijat  sesuai titik syaraf. Makanya ada proses pembelajaran. Untuk akupunktur saja ia harus sekolah tiga tahun untuk pegang nadinya doang.”
Hal senada juga diungkapkan dr. Melissa  dari Yayasan Kanker Indonesia pada acara Akar Pinang di SCTV, “YKI  mengakui bentuk pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kanker. 

 

 

 

 

 

 

Tapi sangat mengharapkan adanya riset terhadap obat-obatan atau jamu-jamuan yang digunakan. Bila riset memang membuktikan keampuhannya, kami bisa publikasikan. YKI juga memiliki divisi untuk meriset macam-macam pengobatan alternatif yang katanya bisa menyembuhkan kanker.”

    
Menurut Lula Kamal, proses penyembuhan yang bertahap –tidak cespleng langsung sembuh- merupakan indikator kelogisan pengobatan alternatif. “Setiap penyakit ada prosesnya, ada ceritanya untuk sembuh. Tidak cespleng gitu aja. Saya engga percaya, disembur air putih langsung sembuh. Kayaknya engga gitu, deh.   Misalnya ada orang kena stroke, diobati lewat akupunktur. Untuk sembuh tetap butuh proses, butuh pengobatan rutin tergantung tingkat sakitnya. Nah, ini masuk akal kan? Bahkan sekarang ini ada bentuk pengobatan alternatif yang plus medis. Misalnya pengobatan patah tulang lewat urut atau pijat. Sebelum urut, dirontgen dulu biar ketahuan dimana yang patah atau yang retak. Itu artinya, dia mengakui keterbatasannya, engga punya mata X-ray. Saya yakin mereka tahu betul tentang persendian, syaraf dan pertulangan.”

Bagi Lula Kamal dan Melisa, masalah kelogisan menjadi syarat pengakuan terhadap pengobatan alternatif.   Bagaimana dalam tinjauan Islam? Menurut Aunur Rofiq Shaleh Tamhid, Lc, tidak ada masalah selama tidak ada praktik kemusyrikan. Tidak harus rasional. Pada prinsipnya penyakit fisik yang diderita seseorang itu sebab musababnya  bukan semata-mata fisik. Bisa jadi ada kaitannya dengan masalah spiritual. Jadi, awalnya memang memang melalui  terapi fisik. Tetapi ada penyakit-penyakit tertentu yang ada kaitannya dengan masalah spiritual sehingga dibutuhkan pengobatan alternatif berupa pengobatan ruhiyah,   demikian papar  ustadz yang menamatkan S1 nya di Jamiah Dakwah Islamiyah, Tripoli Libya ini.

Allah Yang Berkuasa Menyembuhkan
Pada dasarnya Allah lah yang menurunkan penyakit dan Allah jualah yang menyembuhkan. Tugas manusia adalah berusaha mencari kesembuhan semaksimal mungkin. Upaya apa pun –sepanjang tidak melanggar syariat-  harus dilakoni. “Prinsip pertama, kita harus kembali kepada Tuhan. Dengan cara apa pun kalau Tuhan ingin menyembuhkan pasti kejadian. Mau medis atau alternatif, ujung penyembuhan adalah pendekatan pada Allah SWT,” Papar Lula serius.
“Langkah pertama adalah kembali pada Allah dan menyadari bahwa penyakit ini datangnya dari Allah. Kedua, yakin bahwa hanya Allah yang dapat  menyembuhkan. Obat, dokter atau apa pun juga hanyalah sarana.  Barulah langkah ketiga melakukan upaya kemanusiaan dengan mendatangi dokter, minum obat, dengan terus berdo’a memohon kesembuhan,” tambah ustadz yang sekarang menjabat sebagai direktur Gema Shafa Marwa, sebuah biro perjalanan haji dan umroh yang diantara jamaahnya ada yang memperoleh kesembuhan dari penyakit setelah melakukan ibadah umroh.
Berbicara tentang masalah keyakinan, ternyata ini  merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan.  Dengan bekal keyakinan pada Allah, seorang penderita tak pernah putus asa  berikhtiar mencari kesembuhan. Kalau pun usahanya belum berhasil, ia akan menyadari  hikmah  dibalik sakitnya. Dan ketika segala upaya medis dianggap telah buntu, ia pun tak hilang akal. Keyakinannya pada Allah akan membuatnya bermuara pada do’a dan munajat  suci. “Melalui do’a, Allah akan memberinya kekuatan spiritual yang dapat melawan penyakitnya hingga ia memperoleh kesembuhan. Dari segi medis mungkin tak masuk akal, ya. Tapi begitulah. Maka sangat bagus sekali kalau ada dokter yang selain mengobati secara medis, juga menggunakan cara spiritual,” papar ustadz yang tinggal di bilangan Kalisari ini.
Sebagai seorang ahli medis, Lula Kamal juga meyakini kekuatan doa. Namun, ia mencoba menjelaskan secara rasional, “Barangkali sebelumnya ia pernah mendapat obat.  Jadi, ada proses penyembuhan yang telah dilakukan. Nah, ketika berobat dengan cara alternatif itulah saat sembuhnya.”
Setiap penyakit ada obatnya. Mau pilih medis atau alternatif, silakan. Tapi satu hal yang harus diingat: Allahlah Sang Penyembuh! 
(DSW) 

  artikel lanjutan

|| home | kisah misteri  | artikel | pengobatan | galeri |guestbook ||


 
Copyright 2000 Kelam Ezine All rights reserved. Web design by
Ikanasin